Rabu, 25 Januari 2012

Membuka Kehidupan dengan Madre

Untuk Blog Kontes Mizan.com - www.mizan.com

Salam,

Sebelumnya saya ucapkan terima kasih untuk Mbak Dee atas semua tulisan-tulisan Mbak yang begitu memesona. Saya begitu banyak menemukan banyak hal dalam tulisan Mbak Dee, tentang kehidupan, tentang kerja keras, kasih sayang antar sesama, namun juga ada komedi di dalamnya yang bisa membuat saya tertawa. Ya, bukankah kita juga butuh tawa dalam hidup ini? Tak hanya mengurusi politik yang lama-lama justru seperti dagelan yang tak lucu sama sekali.

Perkenalkan, nama saya Richa Miskiyya, saya adalah seorang mahasiswa dan calon wisudawati di akhir bulan Januari ini pada salah satu Universitas Negeri di Semarang, hehe. Berbangga sedikit tidak apa-apa kan, mbak? Saya termasuk salah satu pembaca karya-karya Mbak Dee, salah satu yang membuat saya terpesona dengan Mbak Dee adalah dulu saya mengenal Mbak Dee sebagai seorang penyanyi dalam grup RSD, namun Mbak Dee kemudian menjadi seorang penulis novel terbitan mizan (www.mizan.com) yang best seller.

Dari perpindahan jalur itulah, saya melihat Mbak Dee adalah sosok perempuan yang berani, berani untuk memulai sesuatu yang baru. Tak tanggung-tanggung, dari tulisan-tulisan Mbak Dee, saya membaca ada ketotalan dalam setiap katanya. Rasa total untuk berbagi, berbagi tentang apa saja, tentang ilmu kehidupan, juga tentang cinta.

Saya juga salah seorang perempuan di Indonesia ini yang punya hobi menulis, dan beberapa tulisan saya sudah ada di media. Namun, saya tak ingin cepat puas. Saya ingin menulis dengan lebih baik lagi, dan dari karya Mbak Dee lah bisa saya jadikan untuk pemacu langkah saya berikutnya.

Baru-baru ini saya membaca buku kumpulan cerpen Madre, dalam Madre saya menemukan banyak hal yang ternyata saya lewatkan begitu saja dalam hidup ini. Ternyata kehidupan ini memang tak bisa kita duga awal dan akhirnya, sejauh apapun kita melangkah, jika itu bukan jalan kita, maka kita justru akan dibelokkan ke jalan yang memang ditakdirkan untuk kita,

Madre tak hanya sebuah biang adonan roti, namun di dalam Madre juga terdapat biang kehidupan. Tentang sebuah garis keturunan yang menjadi biang lahirnya keturunan selanjutnya, tentang kesetiaan yang menjadi biang semangat hingga berkembanglah cinta.

Dari Madre pula, saya mendapat suatu arti kerja keras dan semangat. Karena dalam setiap pekerjaan yang tidak didasari dengan rasa cinta, semuanya akan berakhir sia-sia. Seperti cinta Tansen, Pak Hadi dan para pekerja toko roti pada Madre dan Tan de Bakker.

Cerita ini merupakan cerita yang kompleks, seperti roti berisi aneka rasa, coklat, kacang, selai nanas, stroberi, juga keju yang baru keluar dari panggangan. Hmmm....nikmat, dari luar tidak terlihat rasanya, namun dari baunya akan tercium bahwa roti ini enak. Dan ketika sudah memakannya, akan ditemukan banyak rasa yang sunggung mengejutkan, namun lagi-lagi, nikmat.

Begitulah, Mbak Dee. Pengalaman saya membaca Madre, dan terima kasih untuk semua cerita-cerita yang mengenyangkan dan membuat saya tersenyum juga rindu untuk melahapnya berulang-ulang. Terima kasih, Mbak Dee. Saya tunggu cerita-cerita Mbak Dee selanjutnya.

Dari Richa Miskiyya, Untuk : Mizan.com (Membuka Kehidupan dengan Madre Untuk Blog Kontes Mizan.com - http://mizan.com/index.php Salam,Sebelumnya saya ucapkan terima kasih untuk Mbak Dee atas semua tulisan-tulisan Mbak yang begitu memesona. Saya begitu banyak menemukan banyak hal dalam tulisan Mbak Dee, tentang kehidupan, tentang kerja keras, kasih sayang antar sesama, namun juga ada komedi di dalamnya yang bisa membuat saya tertawa. Ya, bukankah kita juga butuh tawa dalam hidup ini? Tak hanya mengurusi politik yang lama-lama justru seperti dagelan yang tak lucu sama sekali.Perkenalkan, nama saya Richa Miskiyya, saya adalah seorang mahasiswa dan calon wisudawati di akhir bulan Januari ini pada salah satu Universitas Negeri di Semarang, hehe. Berbangga sedikit tidak apa-apa kan, mbak? Saya termasuk salah satu pembaca karya-karya Mbak Dee, salah satu yang membuat saya terpesona dengan Mbak Dee adalah dulu saya mengenal Mbak Dee sebagai seorang penyanyi dalam grup RSD, namun Mbak Dee kemudian menjadi seorang penulis novel terbitan mizan (http://mizan.com/index.php ) yang best seller.Dari perpindahan jalur itulah, saya melihat Mbak Dee adalah sosok perempuan yang berani, berani untuk memulai sesuatu yang baru. Tak tanggung-tanggung, dari tulisan-tulisan Mbak Dee, saya membaca ada ketotalan dalam setiap katanya. Rasa total untuk berbagi, berbagi tentang apa saja, tentang ilmu kehidupan, juga tentang cinta.Saya juga salah seorang perempuan di Indonesia ini yang punya hobi menulis, dan beberapa tulisan saya sudah ada di media. Namun, saya tak ingin cepat puas. Saya ingin menulis dengan lebih baik lagi, dan dari karya Mbak Dee lah bisa saya jadikan untuk pemacu langkah saya berikutnya.Baru-baru ini saya membaca buku kumpulan cerpen Madre, dalam Madre saya menemukan banyak hal yang ternyata saya lewatkan begitu saja dalam hidup ini. Ternyata kehidupan ini memang tak bisa kita duga awal dan akhirnya, sejauh apapun kita melangkah, jika itu bukan jalan kita, maka kita justru akan dibelokkan ke jalan yang memang ditakdirkan untuk kita,Madre tak hanya sebuah biang adonan roti, namun di dalam Madre juga terdapat biang kehidupan. Tentang sebuah garis keturunan yang menjadi biang lahirnya keturunan selanjutnya, tentang kesetiaan yang menjadi biang semangat hingga berkembanglah cinta.Dari Madre pula, saya mendapat suatu arti kerja keras dan semangat. Karena dalam setiap pekerjaan yang tidak didasari dengan rasa cinta, semuanya akan berakhir sia-sia. Seperti cinta Tansen, Pak Hadi dan para pekerja toko roti pada Madre dan Tan de Bakker.Cerita ini merupakan cerita yang kompleks, seperti roti berisi aneka rasa, coklat, kacang, selai nanas, stroberi, juga keju yang baru keluar dari panggangan. Hmmm....nikmat, dari luar tidak terlihat rasanya, namun dari baunya akan tercium bahwa roti ini enak. Dan ketika sudah memakannya, akan ditemukan banyak rasa yang sunggung mengejutkan, namun lagi-lagi, nikmat.Begitulah, Mbak Dee. Pengalaman saya membaca Madre, dan terima kasih untuk semua cerita-cerita yang mengenyangkan dan membuat saya tersenyum juga rindu untuk melahapnya berulang-ulang. Terima kasih, Mbak Dee. Saya tunggu cerita-cerita Mbak Dee selanjutnya.Dari Richa Miskiyya, Untuk : Mizan.com (www.mizan.com)

Selasa, 08 November 2011

PENGUMUMAN 20 NOMINE SAYEMBARA MENULIS CERPEN BELISTRA 2011

Sepatah Kata dari Dewan Juri
Kurnia Effendi – Raudal Tanjung Banua

Cerpen Masih Memiliki Masa Depan
Pernyataan di atas seperti datang dari seorang yang bangkit optimis setelah lama merindukan cerpen-cerpen yang baik (dan mencerahkan). Cerpen yang setiap pekan hadir melalui koran edisi minggu atau secara berkala muncul di sejumlah majalah, bagai selingan saja. Dibutuhkan untuk membunuh waktu, “habis dibaca sekali duduk” menurut Allan Poe, dan kembali lenyap kecuali kelak menjadi buku. Sementara di toko-toko pustaka, orang ramai memborong novel, hampir melupakan cerita pendek. Mereka yang berharap-harap peruntungan dari cerpen semata para penulisnya sendiri. Dengan sepatah-dua ulasan mengenai cerpen membuat hati pengarangnya sedikit senang.

Lomba cerpen Belistra menunjukkan bahwa masih banyak kaum muda senang menulis cerpen. Persoalan berikutnya adalah: sekadar menulis atau terampil mengolah gagasan menjadi sajian yang menggetarkan. Tema yang dibebaskan sesungguhnya menarik untuk dieksplorasi menjadi segala sesuatu yang hampir tak mungkin dan pembaruan yang ditunggu-tunggu. Dari jumlah cerpen yang masuk, pada pembacaan putaran pertama kami langsung terperas tinggal seperenamnya. Artinya, memang tidak mudah menulis cerpen. Sekaligus, tak sulit menulis cerpen, bila menyertakan keterlibatan emosi untuk menghidupkannya.

Berbagai pokok pikiran dan teknik menyampaikannya kepada pembaca, pertama kali harus memenuhi syarat tentang penguasaan penggunaan bahasa. Itulah kendaraan bagi sang pengarang. Cerita yang baik, “anehnya”, justru yang mengandung ironi, kejutan di sana-sini, ungkapan yang tak klise, dan sentuhan humor dengan mata ganda: membuat tertawa dan menyindir. Dari seperenam yang terpilih bergerak dalam wilayah: realisme, kearifan lokal, satir, romansa, semi mitologi, dan sejarah. Memang belum sampai pada absurditas, tetapi kami dapat mengatakan bahwa sebagian pengarang akan membawa cerpen ke masa depan yang cukup terang.

Banyak karier menulis dimulai dari kompetisi, karena medium ini menjadi semacam cara uji. Sejauh mana kemampuan seorang penulis bersaing untuk menjadi yang pantas dan belajar pada cakrawala sastra yang lebih luas. Belistra telah memberikan kesempatan yang baik bagi para mahasiswa, yang juga dimanfaatkan dengan baik. Pada putaran pembacaan kedua, dengan mudah terpilih urutan. Semua ini tentu bersandar pada selera, meskipun disusun melalui kriteria yang cukup mendasar: keterampilan berbahasa, logika fiksi, teknik penyampaian, dan pesona yang ditawarkan. Bagi kami yang juga menyandang “profesi” penulis cerpen, bacaan seperti ini sungguh karib dan tentu mengharapkan sesuatu yang “out of the box”. Meskipun tidak terpenuhi keinginan itu, namun sekali lagi kami mengatakan bahwa cerpen masih memiliki harapan dan masa depan. Mudah-mudahan bakat mereka terasah dan masing-masing memiliki daya tahan sehingga sanggup menulis dalam usia yang panjang.

Dengan kecintaan terhadap sastra, kami memilih dan memutuskan 20 nominasi pemenang sebagai berikut:

Tenggok, karya Angga Aryo Wiwaha (STAIN Purwokerto)
Saksi, karya Zakiya Sabdosih (Univesitas Brawijaya-Malang)
Aku Sayang Luisa, karya Hermawati Nur Zulaikha (Institut Pertanian Bogor)
Tari Api Jefa Nugraheni Sunu, karya Royyan Julian (Universitas Negeri Malang)
Gambalu, karya Ahmad Ijazi H. (UIN Sultan Syarif Kasim- Riau)
Bulan Kebabian, karya Eko Triono (Universitas Negeri Yogyakarta)
Prenjak, karya Raymon Tulus Y. (Universitas Padjadjaran-Bandung)
Kepala, karya Mega Fitriyani (Universitas Gadjah Mada-Yogyakarya)
Malaikat Rumah Rahwa, karya Nur Afif Kadir (Universitas Muhammadiyah Malang)
Ibu Menyanyi Untukku, Aku Menyanyi untuk Ibu, karya Dodi Prananda (Universitas Indonesia)
Cinta dari Kampung yang Hilang, karya M. Nur Fahrul Lukmanul Khakim (Universitas Negeri Malang)
Aku, Perempuan, dan Pak Kacong, karya Lukman Hakim Ag. (STITA)
Epos Senja, karya Amanatia Junda S. (Universitas Gadjah Mada-Yogyakarya)
Februari, karya Septantya Chandra Pamungkas (Univesitas Brawijaya-Malang)
Kembang Turi, karya Widya Nurrohman (Universitas Airlangga-Surabaya)
Surat untuk Izrail, karya Richa Miskiyya (IAIN Walisongo-Semarang)
Warung Nyi Taslima, karya Badrul Munir Chair (UIN Sunan Kalijaga-Yogyakarta)
Dara Jingga, karya Sulfiza Ariska (UT UPBJJ Yogyakarta)
Kampus Perjuangan, karya Anita Rachmawati (Univesitas Brawijaya-Malang)
Lagu untuk Ibu, karya Thoni Mukharrom I.A. (Universitas PGRI Ronggolawe-Tuban)
Penantian Satu Wajah, karya Nur Inayah Syar (Universitas Negeri Makassar)

Kepada seluruh nomine lomba cerpen Belistra, kami menyampaikan selamat. Bagi yang belum beroleh kesempatan, karena satu dan lain hal, tidak perlu berkecil hati. Pesan kami kepada seluruh peserta: jangan berhenti menulis.

Catatan Panitia:
Daftar karya di atas tidak berdasarkan urutan pemenang. Dengan dipublikasinya hasil keputusan dewan juri ini, UKM Belistra FKIP Untirta mengundang kepada seluruh nomine untuk menghadiri “Belistra Bergema: Meretas Cinta Lewat Sastra” pada Senin, 21 November 2011, bertempat di Auditorium Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta).
Adapun acara yang terangkum di dalamnya adalah Seminar Menulis dengan pembicara Kurnia Effendi (salah satu juri) serta Pengumuman Pemenang dan Malam Penganugerahan bagi para Jawara Sayembara Menulis Cerpen UKM Belistra FKIP 2011. Surat resmi akan kami kirimkan melalui e-mail masing-masing nomine dan mohon untuk mengonfirmasi kehadiran, paling lambat 16 November 2011.

Narahubung:

Tri Megaraesita (Ketua Pelaksana Sayembara Menulis Cerpen Belistra 2011 - 087774121439)
Anom Fajar Puji Asmoro (Ketua Umum UKM Belistra FKIP Untirta - 081906494706)

Salam takzim.
Panitia Sayembara Menulis Cerpen Belistra 2011
UKM Belistra FKIP Untirta

Sumber : http://ukmbelistra.blogspot.com/

Senin, 24 Oktober 2011

Ulang Tahun Terindah

Oleh : Richa Miskiyya

Nana hari ini berangkat sekolah dengan senyum ceria, di tangannya tergenggam tumpukan kertas warna-warni. Kertas-kertas itu adalah undangan pesta ulang tahunnya yang akan dirayakan lusa, hari Minggu.

Sesampainya di sekolah, bel masuk belum berbunyi. Nana pun segera membagikan undangan yang ia bawa kepada teman-teman sekelasnya di kelas VI B.

“Datang ke pesta ulang tahunku, ya,” ujar Nana sambil membagikan undangan.

“Wah, makasih, Nana. Kita pasti datang,” ucap Winda yang tengah berkumpul dengan teman-teman yang lain di bangku belakang.

Setelah semua undangan selesai dibagikan, Nana pun menuju bangkunya di deretan nomer dua dari depan. Teman-teman yang menerima undangan dari Nana terlihat gembira, namun saat melihat Fifi, teman sebangkunya, Nana tidak melihat kegembiraan seperti teman-temannya yang lain.

“Fi, kamu kenapa? Tidak suka menerima undangan dariku, ya?” tanya Nana.

Fifi yang ditanya seperti itu hanya menggeleng.

“Lalu kenapa?”tanya Nana lagi.

Aku teringat dengan Vira, adikku.

“Vira kenapa? Sakit?”

“Bukan, Vira lima hari lagi ulang tahun dan dia ingin sekali ulang tahunnya dirayakan, ia juga merengek minta dibelikan kue ulang tahun. Tapi kamu tahu keadaan keluargaku bukan? Keluargaku hidup sederhana dan tidak punya cukup uang untuk membuat pesta ulang tahun untuk Vira,”jelas Fifi.

Nana terdiam, ia jadi teringat rengekannya pada Papa dan Mama seminggu yang lalu untuk membuat pesta ulang tahun untuknya dan meminta hadiah sepeda baru, padahal sepedanya masih bagus karena memang jarang ia gunakan.

Nana kenal baik dengan Vira. Vira adalah adik Fifi yang sekarang duduk di kelas III di sekolah yang sama dengan Nana dan Fifi. Vira pun bersahabat dengan adik Nana yang bernama Mita karena mereka sama-sama duduk di kelas III.

----- ----- -----

Sesampainya di rumah, Nana langsung menuju ke dapur. Dilihatnya Mama dan Mbok Yah sedang mengelap piring dan gelas yang akan digunakan besok.

Setelah mencium tangan Mama, Nana pun segera duduk di samping Mama.

“Kok anak Mama sedih? Kenapa sayang? Mama dan Papa kan sudah menuruti keinginan Nana untuk merayakan ulang tahun, kok masih sedih?” Nana masih tetap diam tak menjawab pertanyaan Mama.

“Kenapa sayang? Nana mau minta hadiah apa selain sepeda?” tanya Mama penuh sayang. Nana dan Mita adiknya memang berasal dari keluarga berada, sehingga mau minta apapun pasti dituruti oleh Mama dan Papanya.

“Ng...Nana gak mau hadiah sepeda, Ma. Nana mau minta hadiah lain,” ucap Nana.

“Memangnya Nana mau minta apa? Baju baru, sepatu baru, atau boneka?” tanya Mama sambil tetap mengelap piring.

Nana menggelangkan kepalanya. Mama yang melihat gelengan kepala Nana pun mengerutkan dahi, bingung.

“Lho, tadi katanya mau minta hadiah? Kok malah geleng-geleng?”

Nana pun mendekati Mamanya dan membisikkan sesuatu di telinga Mama. Mendengar keinginan Nana, Mama mengerutkan dahinya.

“Boleh ya, Ma?”rajuk Nana.

Mama pun akhirnya tersenyum, “Iya, Sayang. Boleh banget...,” jawab Mama.

“Papa gimana, Ma? Setuju gak ya?” tanya Nana bimbang.

“Papa pasti setuju sayang, biar nanti Mama yang bicara ke Papa.”

“Makasih, Ma,” Nana pun langsung memeluk dan mencium pipi Mamanya saat tahu keinginannya dikabulkan.

----- ----- -----

Esok harinya di sekolah,

“Fi, besok Vira diajak ke pesta ulang tahunku juga ya,” kata Nana pada Fifi saat jam istirahat.

“Tapi Na...”

“Nggak ada tapi-tapian, kalian gak perlu bawa kado. Kalian sudah aku anggap seperti saudara, jadi datang ya, jangan lupa ajak Vira juga,” ucap Nana.

Fifi pun tersenyum mendengar ucapan Nana. “Iya, Na. Besok aku ajak adikku ke pesta ulang tahunmu.”

----- ----- -----

Hari minggu yang ditunggu-tunggu Nana akhirnya datang juga. Ruang tamu sudah dihiasi dengan aneka balon dan kertas warna-warni. Kue dan makanan pun sudah disiapkan.

Teman-teman Nana sudah banyak yang berdatangan, tapi acara belum juga dimulai.

“Acaranya mau dimulai kapan, Kak?” tanya Mita yang sudah tak sabar.

“Bentar, Dek. Nunggu Fifi sama Vira,” jawab Nana.

Akhirnya tak berapa lama, yang ditunggu pun datang. Papa pun segera memberikan sedikit sambutan dan ucapan terima kasih. Setelah Papa memberikan sambutan, Nana pun ikut memberikan sambutannya.

“Terima kasih untuk teman-teman yang sudah mau datang ke pesta ulang tahunku. Sebenarnya ini nggak cuma pesta ulang tahunku saja, tetapi juga pesta ulang tahun Vira, adiknya Fifi yang akan berulang tahun tiga hari lagi. Jadi untuk Vira, sini maju ke depan,” Fifi dan Vira pun kebingungan, mereka tak tahu jika Nana juga membuat pesta untuk Vira.

Pesta berlangsung meriah, tak hanya teman sekelas Fifi dan Nana yang datang, tapi teman-teman sekelas Vira dan Mita juga datang. Ternyata Nana juga menyebarkan undangan untuk teman-teman sekelas Vira dibantu adiknya, Mita.

Vira pun maju ke samping Nana malu-malu ditemani Fifi dan diiringi tepukan tangan yang meriah. Nana memang sengaja ingin memberi kejutan untuk Fifi dan Vira yang ingin ulang tahunnya dirayakan. Akhirnya Nana pun mengganti permintaan hadiah sepedanya dengan permintaan untuk merayakan ulang tahun bersama dengan Vira.

Vira pun terharu ketika melihat kue ulang tahun di depannya dihiasi namanya dan nama Nana. Mereka pun meniup lilin dan memotong kue ulang tahun berdua.

Tak henti-hentinya Vira menebar senyuman, ia terlihat sangat gembira karena ulang tahunnya bisa dirayakan. Nana pun sangat bahagia sekali karena ia bisa berbagi kebahagiaan bersama Vira di hari ulang tahunnya. Di akhir pesta, Papa pun memimpin do’a untuk Nana dan Vira.

Kini Nana sadar, ulang tahun bukanlah soal kado yang bagus dan mahal, tetapi bagaimana kita harus bersyukur kepada Tuhan dan mau berbagi kepada sesama. Baginya, ini adalah ulang tahun terindah.*

(Dimuat di Yunior-Suara Merdeka, Minggu, 23 Oktober 2011)

Minggu, 16 Oktober 2011

Salsa Hitam Manis

Oleh: Richa Miskiyya

SALSA pulang sekolah dengan wajah bersungut-sungut, padahal tidak biasanya Salsa yang selalu ceria tiba-tiba kali ini pulang dengan wajah mendung.

Mama yang melihat anak bungsunya langsung masuk kamar pun kaget, biasanya Salsa selalu memberi salam lalu datang ke meja makan atau dapur untuk mencari Mama dan menanyakan apa menu makan siang hari ini.

Tapi hari ini beda, Mama pun menemui Salsa di kamarnya.

“Sayang kenapa?” Mama membelai rambut Salsa yang sedang tiduran dan menutupi wajahnya dengan bantal.

Salsa hanya menggelangkan kepala tanpa memperlihatkan wajahnya. Mama paham, itu artinya Salsa sedang tidak mau bicara dan tidak mau dipaksa untuk bicara. Mama akan menunggu Salsa untuk bercerita sendiri.

Malamnya Salsa hanya membolak-balik buku pelajarannya, PR yang harus ia selesaikan belum satu nomor pun ia kerjakan. Pikirannya teringat kejadian tadi siang di sekolah.

”Sa, kamu pas kecil enggak pernah minum susu ya?” tanya Bonar.

”Aku minum susu terus kok, memangnya kenapa?” jawab Salsa.

”Ah, mana mungkin, itu buktinya kulit kamu hitam, kalau minum susu kan putih, hahahaha,” ternyata kata-kata Bonar hanya untuk meledek Salsa.

”Salsa hitam...Salsa hitam....kulit manggis, hahaha,” ledek Bonar dan teman-temannya.

Salsa yang mendengar ledekan Bonar dan teman-temannya membuat mata Salsa memerah dan hampir menangis.

Salsa melihat foto keluarga yang ia letakkan di meja belajarnya, ada Papa, Mama, Salsa, dan Mbak Dina.

”Kenapa aku enggak seperti Mbak Dina?” ucap Salsa lirih seraya memandang kulitnya yang sedikit gelap.

Salsa memang berbeda dengan Mbak Dina, kakak semata wayangnya yang sekarang duduk di kelas VII SMP itu kulitnya putih seperti Mama, cantik.

”Kenapa aku harus berkulit hitam seperti Papa, pikir Salsa. Papa meskipun hitam tapi gagah karena Papa tentara, sedangkan aku? Hufht....” Salsa menghembuskan napasnya.

Tanpa disadarinya, Mama sudah berada di pintu kamarnya dan berjalan menghampiri Salsa.

”Salsa kenapa? Kamu sakit?” Mama segera meraba kening Salsa, tapi tidak panas.

”Kalau Salsa ada masalah, cerita ke Mama ya, Sayang,” kata Mama dengan senyum.

Salsa pun akhirnya menceritakan jika ia sering diledek teman-temannya di sekolah karena kulitnya yang hitam. “Hitam itu kan jelek, Ma,” ujar Salsa.

”Sayang... siapa bilang anak Mama ini tidak cantik? Cantik itu tidak harus dari luar, yang penting hati kita harus cantik. Kita harus selalu berbuat baik pada siapa pun, kita juga tidak boleh membeda-bedakan teman, entah itu dia berkulit putih atau berkulit hitam.”

“Meskipun seseorang itu putih tapi hatinya buruk, sering iri dan dengki, itu juga percuma. Kita itu harus selalu ramah dan tidak boleh membenci orang lain. Kalau ada yang meledek, Salsa tidak boleh balas meledek, apalagi membenci. Satu lagi, anak Mama ini meskipun hitam tapi hitam manis, semanis buah manggis,” nasihat Mama seraya memeluk Salsa penuh kasih sayang.

Salsa pun kini sadar, kita harus mensyukuri apa yang telah diberikan oleh Allah, dan yang penting bukan kulit yang putih, tapi hatilah yang harus putih dan bersih.

Dimuat di Harian Lampung Post, Sabtu 15 Oktober 2011, Share For link

http://www.lampungpost.com/dunia-anak/12196-salsa-hitam-manis.html

Biar Nggak Jadi Plagiator

Oleh : Richa Miskiyya

Akhir-akhir ini banyak banget yang ngomongin soal plagiat and jiplak-jiplakkan karya, hal ini banyak disebabkan karena budaya malas yang udah menggerogoti bangsa ini.

Selain itu juga bisa disebabkan karena banyak alasan, dari yang ingin dapat nilai bagus dengan makalah hasil jiplakan saat kuliah, sampai ingin jadi terkenal tapi dengan cara yang tak wajar, so kamu gak mau kan disebut plagiator and mau jadi inovator, simak tips dibawah ini:

Banyak Baca

Kamu harus banyak baca buku buat nambah pengetahuan, karena dari pengetahuan yang banyak itu kamu bisa dapat banyak ide yang bagus dan mak nyusss. Baca juga merupakan aktivitas untuk memperkaya dan memperdalam pemahaman kita akan suatu hal. Katakan, No Day Without Reading.

Inovasi

Berinovasi adalah bikin sesuatu yang baru dan beda, jangan sampai apa yang kamu dapat, kamu tiru and jiplak habis, tapi kamu juga harus bisa berinovasi untuk bikin yang lebih bagus. Jika sesuatu yang kamu bikin itu bukan hal baru, maka buatlah sesuatu itu menjadi beda.

Jangan Potong Kompas

Potong kompas alias cari jalan pintas buat jadi yang terbaik harus dihindari, karena lama-kelamaan, dan kalo udah jadi kebiasaan, tindakan kamu itu bisa jadi penyakit akut dan mempengaruhi kreativitas. Potong kompas hanya dimiliki orang-orang yang malas dan nggak mau berusaha keras dalam mencapai sesuatu dengan benar.

Jiwa Kompetisi

Jiwa kompetisi adalah sikap untuk selalu mau bersaing secara sehat. Jangan menghalalkan segala cara, kita harus berjiwa kesatria dalam berlomba. Dengan mempunyai jiwa kompetisi, kita akan selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik dengan jalan yang baik pula.

Bisa Milih

Kita harus bisa memilah dan memilih mana yang bagus dan mana yang nggak bagus, jangan sampai kita terjerumus ke dalam hal-hal yang sesat, hingga akhirnya jadi plagiator. Pilihlah jalan yang sesuai dengan hati nurani.

Proses

Kita harus menanamkan di hati dan pikiran kita kalo proses adalah hal yang utama yang harus dilalui dalam sukses. Usaha yang keras dalam menghasilkan sesuatu akan terasa nikmat hasilnya ketimbang dengan cara instan, karena kebahagiaan akan menjadi lebih membahagiakan ketika dihasilkan dengan kerja keras.

So, berinovasilah dan berproseslah, jangan jadi plagiator, oke! Dosa tau!!!!

Dimuat di Annida Online, share for link

http://www.annida-online.com/artikel-4184-tips-biar-nggak-jadi-plagiator.html

Minggu, 25 September 2011

Suara Malam

Oleh Richa Miskiyya

Suara itu selalu terdengar setiap malam, seperti erangan orang yang hampir tercekik. Ketika pertama kali tinggal di rumah ini aku merasa terganggu dengan suara itu, bahkan pernah hampir semalaman aku tak dapat tidur karenanya. Suara itu bukan suara tikus, bukan suara kucing, bukan pula suara hantu. Suara itu adalah suara manusia, manusia biasa, bukan manusia jadi-jadian, bukan pula manusia yang sedang dirasuki jin atau semacamnya. Santi, begitulah ia dipanggil. Dia tetanggaku di tempatku yang baru.

“Itu siapa, bu?” tanyaku pada Ibu saat pertama kali pindah di rumah ini.

“O...itu suara Mbak Santi” jawab Ibuku yang memang sudah kenal Mbak Santi karena aku dan Ibuku memang pindah ke desa dimana Ibuku dilahirkan.

Mbak Santi umurnya sekitar dua tahun di bawah Ibu yang sekarang sudah berumur hampir empat puluh tahun, namun tingkahnya masih serupa anak-anak. Awalnya ia seorang anak yang normal. Namun, saat usia 10 tahun, ia terpeleset di kamar mandi. Kepalanya terbentur lantai, tak ada orang yang tahu hingga beberapa jam kemudian ia baru ditemukan kakaknya. Kata dokter peredaran darah ke otaknya tak lancar hingga kemudian sarafnya pun sedikit terganggu.

Mbak Santi seringkali menceracau tak jelas saat malam. Kata Budhe Mayang yang tak lain adalah kakak kandung sekaligus yang merawat Mbak Santi, ia sedang berbicara dengan “teman” nya.

* * *
Malam yang sepi, hingga suara Mbak Santi pun terbawa angin hingga kamarku. Lamunanku terbawa ke mana-mana. Membayangkan apa yang sedang diobrolkan Mbak Santi bersama “teman”nya itu.

Mungkinkah Mbak Santi mengobrolkan film-film yang ada di televisi, aku membayangkan Mbak Santi ngobrol tentang Band-band baru, tentang lagu-lagu baru, juga tentang berita-berita korupsi atau gosip artis yang ada di televisi.

Jangan-jangan sekarang Mbak Santi juga sedang menyanyi lagu Band terbaru seperti teman-temanku. Aku pun jadi tertawa sendiri membayangkan hal itu.

“Kamu kok tertawa sendiri, Din?” terdengar suara Ibu yang ternyata sudah berdiri di pintu kamarku.

Ibu mendekatiku, dan aku pun tidur bermanja belaian Ibu di pangkuannya. Hanya Ibu milikku satu-satunya, karena Ayah dan adikku meninggal dalam kecelakaan motor ketika mengantar Dek Wildan berangkat sekolah.

“Enggak apa-apa Bu, sedang membayangkan sesuatu.”
“Membayangkan apa, Din?” tanya Ibu seraya membelai rambutku.
“Mbak Santi itu baik ya, Bu. Makanya orang-orang di kampung ini baik sama Mbak Santi, meskipun Mbak Santi itu berbeda tapi orang-orang nggak ada yang jahat sama MbakSanti,” ucapku tentang Mbak Santi.

“Ya itu memang harus Din, meskipun Mbak Santi itu berbeda, bisa jadi dia lebih mulia dan lebih disayang Allah, makanya kita sebagai orang yang beragama jangan pernah membedakan orang hanya dari fisiknya saja,” kata Ibu.

“Apa itu juga yang membuat Ibu memilih tinggal di kampung ini setelah Ayah dan Wildan tidak ada?”

“Begitulah nak, di kampung ini Ibu mendapatkan orang-orang yang sayang dan saling peduli terhadap sesama.”

Kami berdua pun terdiam sejenak ketika suara malam yang tadi berhenti kini muncul kembali. “Mbak Santi menemukan kebahagiaan dengan caranya sendiri, setiap orang berhak berbahagia asal tak bertentangan dengan agama, maka biarkan ia bahagia,” kata Ibu dengan bijak.

Aku pun menganggukkan kepalaku dan tersenyum tanda setuju dengan kata-kata Ibu.

* * *
Sudah dua hari ini Mbak Santi menghilang, suara malam pun tak terdengar dari bibirnya. Biasanya Mbak Santi memang sering menghilang, tapi tak pernah lama, hanya satu hingga tiga jam saja.

Budhe Mayang semakin keras tangisnya. Ia tak henti menyalahkan dirinya sendiri. Ia menceracau tak karuan. Suaminya di sampingnya pun menenangkannya seraya membimbing Budhe Mayang untuk terus beristighfar.

“Istighfar Bu. Istighfar,” ujar Pakdhe Hanam.

Budhe Mayang pun sedikit tenang dan mulai melafalkan kalimat istighfar.

“Astaghfirullahaladzim...Astaghfirullahaladzim...,” ucap Budhe Mayang dengan nada tersengal.

Hingga malam ini, dua hari sudah Mbak Santi menghilang. Entah kemana Mbak Santi perginya, bahkan ada suara yang mengatakan jika Mbak Santi diculik jin.

Tapi entahlah, kemana pun Mbak Santi pergi semoga ia baik-baik saja, harapku. Tiba-tiba dari arah jalanan depan rumah, aku mendengar tapak orang yang berlarian dengan tergesa.

Akupun segera meraih jilbab yang tergantung di belakang pintu dan berlari ke depan teras. Aku hampir saja bertabrakan dengan Ibu di ruang tamu.

Samar-samar aku mendengar jika Mbak Santi telah ditemukan.

“Tapi di mana?” pikirku.

Semua orang di kampung keluar dari rumah. Kampungku terasa ramai serupa ada hajatan besar. Kami semua berkeinginan untuk menjemput Mbak Santi di tempat ia ditemukan.

Jalanan yang gelap dan sedikit becek karena hujan tadi sore tak menyurutkan kami untuk menuju ke tempat itu.

Tempat yang biasanya gelap tiba-tiba berubah menjadi terang. Banyaknya orang-orang yang membawa senter dan lampu petromak membuat tempat ini menjadi tak lagi menyeramkan.

Semua mata terhenti pada satu titik pusara di tengah hamparan rumah masa depan di kampung ini.

Di atas pusara itu meringkuk tubuh seorang perempuan yang sangat kami kenal, perempuan dengan nyanyian khasnya, nyanyian kebahagiaan di setiap malamnya.

Mata itu terpejam, tubuhnya dingin, nafasnya menguap habis bersama angin malam, namun tangan itu memeluk hangat batu penanda tanah penuh kembang yang bertuliskan sebuah nama, SITI AMINAH, Ibunda Mbak Santi dan Budhe Mayang.

Aku kini baru sadar jika segala nyanyiannya tiap malam adalah nyanyian kerinduan, kerinduan penuh doa untuk Ibunda tercinta, juga kerinduan penuh doa kepada Yang Esa.


*(Richa Miskiyya
,. mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang. Tulisan-tulisannya tersebar di beberapa media dan antologi bersama penulis lain.

(Dimuat di Harian Serambi Indonesia. Minggu, 25 September 2011), copas dari link
http://aceh.tribunnews.com/2011/09/25/suara-malam

Minggu, 11 September 2011

LOMBA RESENSI DUA SISI SUSI


Avada Kedabraaaaaaaaaaaaaa....!

Kini saatnya kalian mengungkapkan rasa cinta dan benci kalian terhadap buku DUA SISI SUSI: Buku Paling Mematikan melalui Lomba Menulis Resensi Dua Sisi Susi.

Lomba ini sangat ringan dan rileks meski membedah buku di deretan Best Seller... Kalau kalian memiliki indra ke-6, inilah saat terbaik kalian memaki dan menyanjung Susi.

PERSYARATAN LOMBA

Syarat Lomba perhatikan dengan super serius ya....

Gak susah kok. Baca yuuuuk...:

  • Peserta wajib memakai cover DSS sebagai Pic Profile; masing-masing minimal 30 hari setelah resensi dikirim. (Dianjurkan memakai PP DSS sejak pengumuman Lomba ini)
  • Resensi diketik minimal 1 halaman, maksimal 2 halaman A4 (2.500 cws).
  • Mencantumkan keywoard (kata kunci) minimal 2 judul cerpen dalam kumcer DSS (misalnya: Tiga Titik Hitam, Dunia Hitam Susi dan lain-lain).
  • Resensi dipublikasikan di note FB masing-masing dan mentag minimal 20 teman.
  • Pada akhir tulisan mencantumkan link info lomba(http://www.facebook.com/groups/212158505467096/doc/278732828809663/).
  • Kirim biodata dan link resensi berisi: Nama lengkap, alamat FB, alamat rumah, nomor rekening, nomor telpon yang bisa dihubungi dan link resensi ke email:lomba_resensidss@yahoo.com

Deadline: 20 Oktober 2011 pukul 24.00 WIB

Peserta boleh mempublikasikan resensi di blog dengan catatan penilaian tetap dilakukan pada resensi di note FB.

HADIAH :

5 Resensi terbaik akan mendapatkan hadiah berupa uang tunai @Rp.500.000,-

*Keputusan Juri tidak dapat diganggu..apalagi digugat!

Jum'at Cendol ditiadakan sebagai gantinya akan dilakukan tanya jawab dan konseling sekitar lomba dengan Dewan Juri.

Selamat menulis.

DEWAN JURI

Ceko Spy (Ketua Dewan Juri)

Astuti J Syahban (Anggota)

Richa Miskiyya (Anggota)

Seluruh Dewan Suker CErita Nulis Diskusi OnLine(Penasehat Tim Juri)

Salam,

mayokO aikO

UNIVERSAL NIKKO